Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label ChallengeRamadan

PELAJARAN 45 MENIT

“Kenapa memilih profesi sebagai tukang ojeg , Un (kak)?” Kuawali  perbincangan dengan tukang ojeg yang membawaku. Pagi itu, aku akan  menghadiri rapat di kabupaten. Suamiku tidak bisa mengantar karena beliau ada kegiatan lain. Rencana mau numpang dengan bis pemda tetapi aku kesiangan karena bis pemda berangkat jam 6.30 WIB dari kecamatanku.  Saat berdiri di tepi jalan menunggu travel, sebuah sepeda motor yang dikendarai seorang perempuan menghampiriku.  “Mau kemana, Bu?’ tanyanya sopan. “Mau ke kabupaten.” Jawabku “Bisa diantar sama saya saja, Bu? Travel biasanya lama, nanti ibu terlambat.” Sahutnya sedikit memohon.  “Uni, tukang ojeg?” tanyaku sambil memandangnya. Seorang perempuan paruh baya. Posturnya lebih tinggi dari tubuhku dan terlihat kuat. “Iya, Bu, mari saya antar saja, pakai motor mungkin akan lebih cepat sampai, saya sudah biasa mengantar penumpang ke kabupaten, Bu.” Jawabnya lagi. Benar juga kata tukang ojeg ini, jika aku pakai travel mungkin akan l...

MELEK TEKNOLOGI KARENA PANDEMI.

Maret, setahun yang lalu, corona virus yang tak kasat mata itu menghampiri negeriku. kehadirannya mengubah sesuatu yang biasa menjadi luar biasa. Sekolah ditutup, Mall ditutup, obyek wisata ditutup bahkan  tempat-tempat ibadah menjadi sunyi, semuanya “Stay at Home” dengan dihantui rasa cemas. Masker dan handsanitizer menjadi barang yang sangat diminati, spanduk yang bertuliskan “Jaga Jarak” memenuhi seluruh fasilitas umum. Itu semua terjadi di ibukota dan sekitarnya. Alhamdulillah, kami yang ada di bagian barat Indonesia masih menyandang status zona hijau. Larangan mudik bagi para perantau dan penjagaan ketat di gerbang masuk daerahku membuat kami sedikit lega, setidaknya virus itu tidak akan mengusik kami. Pagi itu, Mei 2020, kami dikejutkan oleh berita yang menyatakan 3 warga di kecamatanku “positif” status zona hijau ambyar. Pasar dibubarkan, anak sekolah diliburkan. Kantor-kantor pelayanan umum dibatasi kecuali rumah sakit. Suasana terasa mencekam. Slogan “Bersatu kita teguh, b...

DILEMA DELISA

oleh:  Yeni Rohaeni   Pagi itu, 3 tahun yang lalu,  Lagu ruang rindunya Letto yang terdengar nyaring dari gawaiku tidak bisa kuabaikan lagi. Terpaksa aku meraihnya, padahal sebagai ibu rumah tangga, pagi hari bukan waktunya memegang android tetapi waktunya mengurus urusan dapur.   “Ada apa sih, Del? Pagi-pagi dah ribut nelpon, ganggu kerjaanku aja,” jawabku saat kutahu yang nelpon adalah Delisa sahabatku. “Mamaku nanyain akta ceraiku,  aku bingung harus bilang apa lagi? Gak mungkin kan aku berbohong terus sama mamaku.”  Aku termangu mendengar suara sahabatku yang lirih. Sahabatku memang sedang mengalami masa yang berat, masa dimana dia harus menentukan sebuah pilihan.  Mengikuti keinginan mamanya atau menyusul suaminya. Hampir 2 tahun, suami Delisa meninggalkannya, suaminya memutuskan berhenti bekerja di kota Bandung dan memilih pulang ke kampungnya di Pulau Kalimantan. Sebelum pulang suaminya berpesan agar Delisa dan anaknya yang berusia 4 tahun ...